Home » Berita » Musibah dan Kepedulian Menjaga Kelestarian Alam

Musibah dan Kepedulian Menjaga Kelestarian Alam

Musibah alam mengingatkan pentingnya kepedulian manusia menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan bumi yang lebih baik.
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Adzan baru saja berkumandang. Suaranya sayup-sayup terdengar, melantunkan kata awal: Allahu Akbar.

Tiba-tiba, suara adzan itu menghilang. Tertelan oleh gemuruh luar biasa—memekakkan telinga, seperti langit runtuh ke bumi. Dentuman keras menggelegar. Semua terjadi sangat cepat. Tak ada waktu untuk berteriak, apalagi panik. Bahkan jika ada yang sempat berteriak, tak akan terdengar. Suara alam terlalu perkasa.

Bumi berguncang hebat. Batu-batu sebesar rumah dan mobil meluncur deras dari arah bukit yang jauhnya sekitar 7 kilometer. Kecepatan dan kekuatannya menggilas apa pun yang dilewati—bersama lumpur dan tanah yang longsor menuju lokasi proyek pengeboran sumur panas bumi di kaki bukit. Semua habis tersapu.

Inilah rolling stones dalam arti sesungguhnya. Batu-batu dan lumpur melindas porta camp tempat tinggal para pekerja proyek malam itu. Tak ada yang tersisa. Dalam sekejap, semuanya luluh lantak. Kun fayakun. Ketika Allah berkehendak, maka terjadilah.

Sumbang Saran Pemikiran Atas Besarnya Beban Hutang Negara

Lalu… sunyi. Suara gemuruh itu terhenti seolah diarahkan oleh sutradara agung. Tragedi ini selesai hanya dalam hitungan menit—dan berakhir tepat bersamaan dengan lantunan terakhir adzan: La ilaha illallah.

Kalimat ini adalah pernyataan tauhid, pengakuan bahwa tiada tuhan selain Allah SWT, satu-satunya Sang Pencipta. Kalimat itu terasa menjadi kunci hikmah atas musibah ini.

Demikianlah kisah yang dituturkan oleh seorang saksi mata kepada auditor yang datang ke lokasi beberapa jam kemudian. Ia menyaksikan semuanya dari kantor manajemen proyek yang terletak hanya beberapa meter dari aliran lumpur dan batu besar yang mengamuk. Subuh itu, ia hanya mampu terdiam, beristighfar, menyaksikan kedahsyatan alam yang tak tertandingi oleh upaya manusia.

Korban jiwa tercatat tujuh orang: empat pekerja proyek dan tiga penduduk setempat. Salah satu korban ditemukan di kedalaman empat meter, dekat tangki penyimpanan air yang juga ikut tertimbun. Diduga, ia tengah mengambil air wudhu untuk salat subuh. Tiga pekerja lainnya ditemukan dalam porta camp, bersarung, mungkin tengah bersiap salat berjamaah. Sementara tiga warga berada di luar area proyek, namun tetap menjadi korban. Semua terkubur hidup-hidup.

Bencana ini amat dahsyat. Buktinya, bongkahan batu setinggi dua meter berhasil terbawa dari bukit sejauh 7 km dan kini terhenti tepat di jalan masuk desa. Batu itu kini berdiri seperti monumen bisu, saksi kedahsyatan tragedi ini.

Sikap Kritis dan Pemikiran Progresif Cermati Perkembangan Isu Strategis Nasional

Foto dokumentasi sebelum dan sesudah kejadian menunjukkan kontras yang menyayat hati. Sebelumnya, proyek tampak indah—latar bukit hijau, kontur alam yang dinamis, dan geliat pekerjaan yang menjanjikan harapan. Kini, semua berubah. Alam yang semula bersahabat menjadi medan kehancuran.

Salah satu dampak teknis yang serius adalah kerusakan valve pengunci sumur panas bumi. Proyek ini sebelumnya telah berhasil menemukan sumber panas bumi untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Namun kini, valve itu terbongkar, dan energi panas bumi memancar liar ke udara. Suaranya menggelegar tanpa henti, seperti jerit bumi yang tak tertampung. Energi itu terhambur sia-sia, tak termanfaatkan.

Ke depan, tugas utama proyek adalah menjinakkan kembali energi ini. Agar sumber panas bumi tersebut bisa kembali diarahkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Hasil verifikasi terhadap dokumen amdal menunjukkan bahwa proyek ini tidak melanggar ketentuan yang berlaku. Semua prosedur dan standar telah dipenuhi. Bukit tempat longsor berasal berada jauh di luar cakupan wilayah amdal. Secara teknis, wilayah itu tidak termasuk area yang diperkirakan terdampak proyek.

Namun, muncul dugaan adanya aktivitas penebangan liar di kawasan hutan bukit tersebut. Jika benar, maka bencana ini tidak sepenuhnya dapat ditimpakan pada proyek. Meski demikian, kejadian ini menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor dan kewaspadaan terhadap aktivitas di luar batas formal suatu proyek.

Perlombaan Proteksionisme dan Teknologi Melalui Tarif Tinggi dan Blok Teknologi

Allah telah menyampaikan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 155–157:

*”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”*

Semoga musibah ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Sebuah pengingat untuk bermuhasabah dan berkontemplasi. Agar kita semakin tawadhu dan berhati-hati dalam mengelola alam, menjaga amanah, dan memakmurkan bumi dengan berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an dan Hadits.

Aamiin.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
× Advertisement
× Advertisement