Pendiri Pondok Pesantren Al-Washilah Jakarta
Latar Belakang Keluarga
KH. Ahmad Dasuki Adnan merupakan seorang ulama dan pendakwah yang dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Washilah di Jakarta Barat. Beliau lahir pada 8 Desember 1939 di Desa Tulang Kacang (kini dikenal sebagai Arjasari), Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara, dari pasangan KH. Adnan bin Sanawi dan Hj. Mu’minah binti H. Soleh. Dari garis keturunan ayah, keluarga beliau berasal dari Desa Panggang, Cirebon, sementara dari garis keturunan ibu berasal dari daerah pinggiran Sungai Cisanggarung, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes.
Pada sekitar tahun 1930, keluarga KH. Adnan berpindah dari Cirebon ke wilayah Indramayu. Perpindahan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi wilayah Indramayu yang dikenal subur dan memiliki potensi pertanian yang baik.
🌙 Mondok di Pondok Pesantren Al-Washilah Jakarta
Rasakan suasana pendidikan pesantren yang religius, disiplin, dan penuh nilai keislaman.
Pondok Pesantren Al-Washilah hadir sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan modern untuk membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan.
📍 Alamat
Jl. Kp. Baru No.20, RT.04/RW.10, Kembangan Utara,
Kec. Kembangan, Jakarta Barat, 11610
📞 Telepon / WhatsApp
0898-9156-443
🌐 Website
www.alwashilah.id
📧 Email
ponpesalwashilah@gmail.com
✨ Ayo bergabung bersama Pondok Pesantren Al-Washilah dan jadilah bagian dari generasi santri yang berilmu dan berakhlakul karimah.
Sejak kecil, KH. Ahmad Dasuki Adnan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan sederhana. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya terbiasa hidup mandiri sejak usia dini. Untuk membantu perekonomian keluarga, ia pernah berjualan ubi merah secara keliling.
Di tengah keterbatasan tersebut, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak pernah surut. Ia gemar mengaji Al-Qur’an di surau desa bersama teman-temannya. Sejak kecil pula mulai terlihat kemampuannya dalam merangkai kata dan menyampaikan pesan ketika berlatih pidato atau ceramah agama.
Pendidikan
Pendidikan agama pertama KH. Ahmad Dasuki Adnan diperoleh langsung dari ayahnya, KH. Adnan bin Sanawi. Dari sang ayah, ia mempelajari berbagai ilmu keislaman seperti tauhid, fiqih, nahwu, tafsir Al-Qur’an, serta pengkajian kitab-kitab kuning yang berlandaskan pada pemahaman Ahlusunnah wal Jama’ah.
Selain pendidikan agama di lingkungan keluarga, ia juga menjalani pendidikan formal. Ia sempat bersekolah di SDN Bongas, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, pada tahun 1951 ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Pesantren tersebut merupakan salah satu pesantren tua di wilayah Cirebon yang dikenal kuat dalam tradisi pengkajian kitab kuning.
Selama mondok di pesantren tersebut, KH. Ahmad Dasuki Adnan dikenal sebagai santri yang tekun dan disiplin. Ia aktif dalam kegiatan belajar serta sering membantu para gurunya dalam berbagai pekerjaan di lingkungan pesantren.
Kemampuannya dalam berdakwah mulai terlihat sejak masa menjadi santri. Ia kerap diminta untuk menyampaikan ceramah dalam berbagai kegiatan keagamaan dengan menyertakan rujukan dari kitab-kitab yang dipelajarinya.
Pada tahun 1954 ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Madrasah Aliyah di Cirebon dan menyelesaikannya melalui ujian persamaan di Bandung. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1974 dengan skripsi yang membahas tentang thariqah, sufisme, dan tasawuf.
Selama masa kuliah, ia juga memperdalam metode dakwah dengan belajar kepada beberapa ulama. Salah satunya adalah KH. Musyadad.
Kehidupan Keluarga
Dalam perjalanan hidupnya, KH. Ahmad Dasuki Adnan menikah dengan Hj. Siti Fuedah. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai delapan orang anak.
Perjalanan Dakwah
Setelah menyelesaikan pendidikan, KH. Ahmad Dasuki Adnan mulai aktif berdakwah di berbagai daerah. Ia sering mengisi ceramah pada berbagai acara keagamaan seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, peringatan tahun baru Hijriah, pengajian masyarakat, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Beliau juga aktif mengisi kuliah subuh di Masjid At-Taqwa Cirebon. Melalui kegiatan tersebut, dakwahnya semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Dakwah di Jakarta
Pada pertengahan tahun 1980-an, salah seorang jamaah dari Jakarta yang mengikuti kuliah subuhnya tertarik dengan metode dakwah KH. Ahmad Dasuki Adnan. Melalui perkenalan tersebut, beliau kemudian mulai berdakwah di berbagai masjid di Jakarta.
Suatu ketika beliau mendapat undangan ceramah dalam acara tahlilan di daerah Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat. Ketika melihat kondisi masyarakat di wilayah tersebut, beliau merasa prihatin karena pada masa itu belum terdapat lembaga pendidikan Islam di daerah tersebut.
Berdirinya Pondok Pesantren Al-Washilah
Melihat kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan Islam, KH. Ahmad Dasuki Adnan memiliki keinginan untuk mendirikan sebuah pesantren.
Pada tahun 1988 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Al-Washilah Jakarta. Nama Al-Washilah memiliki arti sebagai perantara yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah SWT.
Melalui perjuangan panjang dalam bidang dakwah dan pendidikan, KH. Ahmad Dasuki Adnan berhasil membangun Pondok Pesantren Al-Washilah sebagai lembaga pendidikan Islam yang memadukan tradisi pesantren dengan perkembangan pendidikan modern.


Comment