“Dindingnya bisu, tapi menyimpan suara sejarah. Dari markas penjajah, tempat pemberontakan, hingga kini jadi rumah pers yang menjunjung kebebasan.”
— Herman Geplak
Jakarta — Di jantung ibu kota, tepatnya di Jalan Veteran II No. 7C, berdiri sebuah gedung tua yang tampak biasa saja dari luar. Namun di dalamnya, tembok demi tembok menyimpan alur sejarah panjang negeri ini. Gedung ini tak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian dari dinamika pergantian zaman—dari kolonialisme, pemberontakan ideologi, hingga kebangkitan era informasi digital.
Pada masa Hindia Belanda, gedung ini dijadikan markas Marsose (Marechaussee), pasukan khusus militer Belanda yang ditugaskan menumpas perlawanan pribumi. Dari balik jendela tinggi dan lorong-lorong gelap, operasi pengintaian hingga penindasan dilakukan secara sistematis. Ironisnya, tak jauh dari lokasi ini pula, JP Coen, sang Gubernur Jenderal yang dikenal keras terhadap rakyat, tewas di tangan perlawanan pribumi. Sejarah mencatat: kekuasaan yang represif tak pernah abadi.
Menyusul kemerdekaan, gedung ini kembali menjadi arena pertarungan ideologis. Sekitar tahun 1945, gedung ini dikuasai oleh Central Committee Partai Komunis Indonesia (CC PKI) yang dipimpin oleh D.N. Aidit. Di tempat inilah rapat-rapat penting digelar, termasuk menyusun strategi untuk Pemberontakan Madiun 1948 dan Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI)—dua peristiwa yang kelam dan mengguncang fondasi bangsa.
Setelah peristiwa G30S mereda, gedung ini diambil alih oleh Kodam Siliwangi, lalu diserahkan kepada Kodam Jaya pada 1966. Saat itu, Mayjen TNI Amir Machmud, yang menjabat sebagai Pangdam Jaya, menyerahkan gedung ini kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Ali Sadikin yang dikenal progresif, menyerahkannya kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di bawah kepemimpinan Harmoko.
Seiring waktu dan perubahan zaman, teknologi menjadi poros baru dalam kehidupan masyarakat. Ketika industri media mengalami transformasi besar-besaran, lahirlah Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) sebagai wadah perjuangan media digital tanah air. Di bawah kepemimpinan Margiono, gedung tua yang penuh sejarah ini kemudian dijadikan markas besar SMSI.
Kini, di bawah komando Firdaus, SMSI menjadikan gedung ini sebagai pusat gerakan informasi yang jujur, independen, dan mencerdaskan publik. Dari tempat yang dahulu menjadi simbol pengawasan dan represi, kini menjelma menjadi rumah kebebasan pers digital.
Gedung di Jalan Veteran II No. 7C bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi perjalanan bangsa—dari kekuasaan kolonial, pergolakan ideologi, hingga era keterbukaan informasi. Dalam sunyinya tembok yang tak bersuara, tersimpan gema sejarah yang terus hidup.
Dan kini, dari gedung ini pula, bergema suara baru:
“Jujur Dalam Bertutur.”
✍️ Penulis: Herman Geplak
(Pemimpin Redaksi Kreatornews – Asesor Digital Marketing – Alumni Tempo Institute Investigative Reporting)
Comment